Welcome to Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Tangerang   Click to listen highlighted text! Welcome to Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Tangerang Powered By GSpeech

TVMC Kab. Tangerang  

   

Pelayanan Informasi Publik  

   

 

 

Mengembalikan Demokrasi

Oleh: Ita Nurhayati*

Pemerintahan suatu negara yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat adalah penjabaran definisi demokrasi Abraham Lincoln yang sudah mahsyur di semua kalangan, bahkan pelajar Sekolah Dasar sekalipun pasti akan memberikan jawaban serupa ketika ditanya apa itu demokrasi.

Demokrasi secara eksplisit termaktub dalam mukadimah UUD 1945 dengan kata “berkedaulatan rakyat”, hal ini kemudian dijabarkan dalam Pancasila sila keempat yang berbunyi: Kerakyatan dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”.

Pada tahun 1998 demokrasi di Indonesia mulai menggeliat kembali, setelah proses perjalanan pemerintahan otoritarianisme yang berbungkus demokrasi pada era orde baru pemerintahan Soeharto yang memimpin Indonesia selama 32 tahun (1966-1998) dan orde lama sejak Indonesia merdeka tahun 1945.

Cita-cita membangun demokrasi yang berkualitas yang diimplementasikan dalam wujud pemilihan pemimpin secara langsung, baik pemilihan kepala negara maupun kepala daerah dihadapkan pada jalan terjal dan berliku, ketika ikhtiar mengembalikan kedaulatan rakyat dengan pemilihan secara langsung dirusak dan dikotori dengan politik uang (money politic).

Pilkades Serentak

Sebentar lagi akan berlangsung pesta demokrasi lokal yang ruang lingkupnya lebih kecil, yaitu Pemilihan Kepala Desa serentak. Ada 153 desa yang akan melakukan perhelatan ini di Kabupaten Tangerang, dan akan berlangsung di bulan Desember tanggal 1 tahun 2019 yang akan datang. Spanduk, pamflet maupun stiker yang berisikan foto kontestan dan janji-janji kampanye mulai bertebaran dan meramaikan pandangan mata di sepanjang jalan desa yang melaksanakan pemilihan.

Hari-hari bertambah ramai dan semakin panas terlebih di musim kemarau ini, panas bukan hanya dirasakan oleh para kontestan yang mulai blusukan ke jalan, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat yang sudah mulai mengarah pada salah satu kontestan yang mereka jagokan. Gesekan-gesekan mulai terasa antar pendukung, ketika masing-masing kontestan yang dijagokan mempunyai (dianggap) kelebihan (dalam segi materi), bukan lagi soal kepemimpinan dan soal bagaimana memajukan desa 6 tahun yang akan datang.

Sudah merupakan rahasia umum bahwa di setiap pemilihan selalu dipastikan akan ada uang yang berseliweran di masyarakat sebagai bujuk rayu kontestan untuk memilih dirinya, bukan sekedar janji-janji kampanye yang disodorkan ketika sosialisasi tetapi dipastikan juga akan ada amplop yang mengiringi. Meski ada hukum yang melarang itu, tetapi seakan semua menutup mata. Stigma yang beredar di masyarakatpun menjadi biasa bahwa hukum diciptakan memang untuk dilanggar.

Paradigma ini kemudian menjadikan demokrasi yang diharapkan menjadi kehilangan arahnya, dan merupakan rangkaian puzzle di dunia politik yang menjadi biasa terjadi dan akhirnya membudaya di masyarakat, kebahagiaan kembali ke dalam demokrasi yang nyata hanyalah menjadi kebahagiaan yang sesaat manakala politik uang merajai di setiap pemilihan.

Memilih calon pemimpin seharusnya berdasarkan atas kesadaran dan kemauan kita untuk memilih pemimpin sesuai yang diharapkan, bukan atas dasar iming-iming dan bujuk rayu yang nantinya akan berbuah penyesalan.

Mengembalikan marwah demokrasi ini adalah PR Bersama, bukan hanya tugas panitia penyelenggara, pemerintah, kontestan bahkan pemilih pun harus mempunyai kesadaran bersama, tentu saja upaya ini merupakan perjalanan Panjang. Tetapi apabila kita bersama melangkah dalam satu persepsi dan pemikiran yang sama bahwa money politic akan merusak tatanan demokrasi kita, maka bukan tidak mungkin demokrasi yang kita gaungkan dan cita-citakan akan menjadi lebih berkualitas dan bermakna dalam realita.

Andai saja semua para kontestan politik berfikiran sama seperti Tamsil Linrung, ketika beliau melihat kontestan yang lain dalam pemilihan walikota makassar menebarkan serangan fajar, beliau menyatakan dalam bukunya Politik untuk Kemanusiaan, 2014:106: ”Saya maju dalam pemilihan walikota ini punya misi. Bukan sekedar menjadi pemenang bila memang takdir kemudian mengamanahkan itu. Misi saya adalah bagaimana kehadiran kita memberikan warna berbeda. Memberikan Pendidikan politik untuk masyarakat. Jika kita terlarut dengan mereka yang melakukan politik uang, lalu apa bedanya kita dengan mereka”.

 

*Penulis adalah anggota KPU Kab. Tangerang periode 2018-2023

 

   

Daftar Pemilih  

   

BERITA KPU  

   

Berita Terbaru  

Bimtek Kearsipan KPU
Wednesday, 05 August 2020
Thumbnail KPU Kabupaten Tangerang melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis Tata Kelola Kearsipan di lingkungan KPU Kabupaten Tangerang, Selasa, 04 Agustus 2020 bertempat di Hotel Ara Gading Serpong, Kecamatan...
game kepemiluan 2
Monday, 27 July 2020
Thumbnail tampilan fullscreen click : http://kuis.kpu-tangerangkab.go.id
Thumbnail Tigaraksa - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tangerang menerima kunjungan kerja dari KPU Jakarta Selatan, Jum'at (24/07/2020)
Radio Talkshow Rumah Pintar Pemilu
Wednesday, 15 July 2020
Thumbnail Tigaraksa, 15 Juli 2020 KPU Kabupaten Tangerang talkshow di radio Tangerang 91 FM dengan Tema "Sosialisasi Rumah Pintar Pemilu" narasumber Imron Mahrus selaku Komisioner KPU Kabupaten...
game kepemiluan
Friday, 10 July 2020
Thumbnail
More inPemilu 2019  
   
© KPU KABUPATEN TANGERANG
Click to listen highlighted text! Powered By GSpeech